Alon-alon Waton Klakon VS Pali Pali

Alon-alon waton klakon,…

Mungkin pepatah ini tidak asing lagi didengar oleh orang Indonesia terutama masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta Alon-alon waton klakon dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan ‘pelan-pelan asal terlaksana’. ‘Alon’ adalah pelan, berlahan (tapi pasti), sabar, teliti, cermat ketika melakukan sesuatu. ‘Waton’ ialah asal atau yang penting, sedangkan ‘klakon’  adalah terlaksana. Terlaksana di sini tentulah terlaksana dengan sebaik mungkin. Sehingga secara ringkas dapat dikatakan bahwa alon-alon waton klakon merupakan Prinsip yang menganjurkan kepada orang untuk melakukan sesuatu dengan secermat mungkin, seteliti mungkin, tidak gegabah, tidak terburu-buru sehingga hasil yang dicapai dapat maksimal.

Pali pali,…

Ini dia suatu pepatah yang telah membudidaya di negara ginseng dan telah dijadikan sebagai prinsip hidup.

빨리 빨리 (pal-li pal-li) yang arti harfiahnya “ayo lekas lekas”, sering terdengar dimana-mana. Di subway, pasar, sekolah, supermarket, universitas dan setiap sudut jalan di seoul.

Disini aku akan membahas kedua prinsip itu,

Alon-alon waton klakon, bagiku ini merupakan suatu prinsip yang bagus bagiku karena tujuannya untuk mencapai hasil yang maksimal sehingga tidak peduli akan waktu, tetapi coba seandainya ada suatu tugas yang mesti dikumpulin besok, apakah prinsip ini tetap berlaku??? apakah sempat jika tugas itu selesai besok jikalau memakai prinsip ini??? tentu saja aku akan menjawab TIDAK.

Mengapa???

Ya aku sendiri pernah merasakannya ketika mengikuti suatu kompetisi video for global warming bersama partnerku, Arum,  karena ingin mendapatkan hasil maksimal aku n dia harus melakukannya dengan pelan-pelan asalkan hasil video kami bagus, na ketika itu kami terjepit waktu tetapi kami tetap santai mengerjakannya, dan ketika hari batas akhir tiba, wow pusing bukan kepalang kami harus menyelesaikannya tepat waktu, dan aku ingat video itu selesai sekitar jam 23.30 dengan gesitnya akulangsung pergi ke warnet dan apa yang terjadi??? websitenya rada2 error dan teng-teng jam udah menunjukkan jam 00.00. Aku tetap berusaha tapi tu website tetap saja error.

Arghhhhhhhhhhhhhhh, betapa kesalnya kami, padahal sudah susah payah untuk ngerjainnya sampe2 ngorbanin waktu pelajaran n libur semester, Uhhhhhhhhh!

Semenjak itu tu aku ngak tertarik dengan prinsip alon-alon asal klakon.

Coba liat prinsipnya Korea “Pali Pali”, wow sangat membuatku tertarik dengan prinsip satu ini.

Mengapa???

Coba deh simak pengalaman orang Indonesia ke korea berikut:

Contoh 1

Di halte atau stasiun saya selalu mendengar orang berkata; Pali-pali (cepat-cepat). Saya bertanya tentang hal ini,”Apa yang membuat Anda selalu harus bergegas?”

“Kalau tidak begitu kami akan tertinggal,” ujar mereka dengan nada hampir-hampir putus asa. Dan mereka tidak mau tertinggal. Tepatnya, system tidak memberi ruang untuk mereka tertinggal.

Tentu saja bagi saya yang punya slogan ; Slowly but sure, ini sungguh di luar akal sehat.

“Manusia bukan mesin,” kata saya.

“Ya kami bukan mesin. Tapi sudah menjadi seperti mesin.”

Contoh 2

Satu waktu, bersama pak taufik (dosen UIN Jogja), saya pernah pulang dari terawih di KBRI Seoul. Kebetulan karena gak tahu nomor bus ke subway akhirnya kita milih untuk berjalan. Saat lewat jembatan, kita dua kali di “salip” orang tua. Satu sudah sangat tua, perempuan usianya sekitar 70 tahun. Dan satu paruh baya … usanya sekitar 55 tahunan. Keduanya nampak masih energik. Padahal kalau dilihat sepintas dari pakaiannya sih, pasti bukan orang kaya apalagi orang yang berpendidikan. Dan mereka juga tidak dalam kondisi lari. Mereka jalan! … sama dengan kita yang juga jalan… tapi kecepatan jalannya memang berbeda…..:((

Orang tua korea cukup “sadis” dalam mengenalkan budaya cepat ke anaknya. Satu waktu pernah lewat zebra cross di dekat sebuah sekolah dasar di Seoul. Berbeda dengan indonesia, zebra cross di korea itu diberi lampu merah. Hanya saja jangan seenaknya saja menerobos, karena selain jarak jalan antar zebra cross cukup jauh, bus yang seukuran 1.5 kali gajah sering sekali melintas dengan kecepatan tinggi. Menerobos berarti maut!

Waktu hijau lampu penyebrangan hanya 30 detik. Sangat singkat. Sementara waktu tunggu sampai hijau lagi bisa 5 menit. Ceritanya ini ada ibu muda yang mengantarkan anaknya ke sekolah. Dia lewat zebra cross. beberapa detik menuju merah lagi. Mepet! Anehnya si ibu malah memilih untuk menggandeng anaknya daripada menggendongnya. dan ibu itu mengajak anak kecilnya berlari. Pali pali!

Si anak, karena tidak bisa mengikuti kecepatan lari ibunya, ia terjatuh. Lalu si ibu hanya bilang, bangun!.. dan (tentu saja) kemudian mengajak berlari lagi. Tidak ada gendong. Tidak ada tangis dari anak karena jatuh. Dan kembali berlari. Pali pali.

Na bisa dilihatkan yang mana yang lebih keren prinsipnya Alon-alon asal klakon atau Pali pali????

One thought on “Alon-alon Waton Klakon VS Pali Pali

  1. Blognya kereen nih… Anak tehnik pertambangan duhh…
    Wah ada yg meninspirasi saya nih tadi dgn kata2nya…
    “lomba salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan gadget / traveling saya” well berhubung say jga bukan org yg cukup berada… Tapi punya mimpi juga ke koreaa..😀 hwaiting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s