Saya, saya, saya

“Waduh!!! Kalau itu sih nggak seberapa dengan apa yang pernah saya alami. Jadi gini ceritanya bla-bla-bla.”

“Kemarin saya jalan-jalan sama keluarga ke Bali. Ternyata benar kata orang kalau ini surganya Indonesia. Saya sempet bla-bla-bla.”

“Tadi malem saya nonton film SCREAM. Waduh serem banget sampe nggak bisa tidur, hampir ngompol dikasur, bla-bla-bla.”

Tak kala ketika kita melihat sebuah foto berkelompok dimana kita ada didalamnya, foto siapa yang pertama kita lihat? (ayo jujur hehe).

“Saya”, “saya”, “saya”. Sepertinya kata ganti orang pertama ini tak asing lagi didengar ditelinga malahan paling sering digunakan disetiap percakapan. Kita selalu berlomba-lomba untuk memakai kata “saya”. Entah apa yang membuat kata ini lebih populer dipakai? Boleh jadi ini digunakan untuk membuat orang lain tertarik pada kita. Ya ini mungkin menjadi salah satu cara untuk memiliki banyak teman, kita berusaha menunjukkan siapa diri kita, seberapa besar pengalaman kita, seeksis apa kita dan sebagainya. Kalau inilah jawaban kalian maka saya hanya bisa geleng-geleng kepala karena ini bukanlah cara menciptakan suatu pertemanan. Tentu saja, cara ini tidak berhasil. Orang-orang tidak akan tertarik pada kita. Merekapun tidak tertarik pada diri kita. Mereka hanya tertarik pada diri mereka sendiri, sampai kapanpun dan dimanapun.

Kalau kita cuma berusaha memberi kesan kepada orang lain dan berusaha menjadikan orang lain tertarik kepada kita, kita tidak akan pernah mempunyai banyak teman yang sejati dan tulus. Teman, teman sejati, tidak dihasilkan dengan cara seperti ini. Sebenarnya kita bisa berteman lebih banyak dalam waktu singkat dengan cara menjadi sungguh-sungguh tertarik pada orang lain dibandingkan dengan cara yang bisa kita lakukan dalam waktu singkat dengan cara mengusahakan orang lain yang tertarik pada kita.

Coba kita buktikan saja. Ketika teman kita sibuk berbicara tentang dirinya, bisa kita lihat antusias mereka yang begitu membara namun tak kala kita tidak serius memperhatikannya maka bisa dilihat mukanya yang ditekuk dan pembicaraan terpotong. Ini menandakan bahwa mereka kecewa dengan diri kita yang telah menyurutkan antusias mereka.

Sebenarnya  kita bisa mencoba dari hal terkecil sampai terbesar dulu untuk membuat diri kita tertarik pada orang lain. Contohnya saja, tertarik dengan model rambutnya atau pakaiannya. Mungkin saya coba memberi sedikit ilustrasi,

“Waduh keren banget kemejanya tan, beli dimana?”

“Nggak keren ah. Beli di JM kok.”

“Seriuan dari dulu kepingin nyari model kayak gini tapi nggak ketemu-temu. JM dimananya, saya sudah nyari di JM tapi nggak ada.”

Bla-bla-bla … Disini saya bisa menjamin si Ristan bakalan merenungi kemejanya seharian dan bertanya-tanya apa benar kemejanya keren. Hal seperti ini pernah saya alami dan terbukti ampuh. Jadi berusahalah membuat diri kita tertarik kepada orang lain bukan membuat orang lain tertarik pada diri kita.

2 thoughts on “Saya, saya, saya

  1. ” berusahalah buat diri kita tertarik kepada orang lain bukan membuat orang lain tertarik pada diri kita ” *bijak sekali.hhe
    dan begitulah yg terjadi pd saya, ” saya sangat tertarik dgn tulisan2 kmu diblog ini ”🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s