127 Hours: Ketika Hidup atau Mati Menjadi Pilihan

Apakah kalian suka film petualangan? Suka film yang menampilkan sosok kehindaan alam? Suka film yang dapat memberikan inspirasi? Dan suka film yang diangkat dari kisah nyata? Jika iya maka inilah jawabannya. 127 Hours merupakan sebuah film biografi yang diangkat dari kisah nyata seorang pendaki atau petualang liar bernama Aron Ralston (diperankan James Franco) yang berjudul Between a Rock and a Hard Place yang ditulisnya pada tahun 2004 silam. Film yang berdurasi 94 menit ini dirilis pada 4 September 2010 (Terlluride) dan 5 November 2010 (US). 127 Hours ini merupakan film besutan director Danny Boyle yang juga sukses mendulang film Slumdog Millionaire lo. Film ini menerima kritikan yang baik, masuk nominasi dari 6 Academy Awards termasuk Best Picture dan Best Actor (James Franco), mendapatkan 3 nominasi Golden Globe 2011 dan menjadi pesaing berat para nominasi penghargaan Oscar. Sebenarnya masih banyak nominasi dan penghargaan yang dicokol oleh film ini namun kalau ditulis disini kebanyakan deh. Jadi jika penasaran silahkan kunjungi List of accolades received by 127 Hours. O iya, menurut informasi yang saya dapat, film ini juga menjadi film yang terlaris dibajak berdasarkan TorrentFreak.

Hmm kalau dipikir-pikir seharusnya film ini sudah cukup lama saya tonton, tepatnya Januari 2011 silam ketika film 127 Hours ini lagi booming-boomingnya namun lucunya nggak sampe ditelinga waktu itu hhaha jadi nggak tahu menahu soal film ini. Waktu itu masih ingat, ketika mau beli kaset DVD bajakan (waduh jujur banget ya hhaha) di PTC seperti film King’s Speech, Black Swan, Choose, Narnia 3  dan serial The Vampire Diaries 2C (baca: season 2, part C). Ada mbak yang nawarin film ini sampe-sampe dikasih spoiler panjang lebar kali tinggi hhaha Namun sayangnya kicauan mbak itu nggak kudengerin, maklum takut kecewa. Na sampai pada Sabtu, 5 Maret waktu lagi ke PTC buat nyari kaset DVD TVD 2D. Dua kali liat orang nanyain, “Mbak ada 127 Hours nggak?” terus ada seorang cewek yang nanya spoiler “Mbak 127 Hours itu film apa?” dan kalian tahu siapa yang ngasih spoilernya? Seorang anak kecil yang mungkin baru berusia 8 tahun ckckck Oleh karena itu, tak ada keraguan dan kebimbangan buat copot 127 Hours sekalian beli kaset DVD Let Me In (lagi lagi film vampire hhaha).

Well, supaya kalian ada bayangan tentang film ini maka saya kasih sedikit spoliernya. Film ini menceritakan tentang perjuangan seorang pendaki atau petualang liar, Aron Ralston dalam menghadapi kecelakaan yang mengharuskannya terjebak disebuah ngarai, celah sempit, yang letaknya cukup jauh dari permukaan batuan di Canyonlands, Utah. Dengan tangan kanan yang terjebit batu, Aron berusaha keras untuk menyelamatkan diri hingga akhirnya dengan tangan yang terluka karena terjepit batu berjam-jam akibat cengkaraman batuan tersebut dan hampir membusuk. Aron tak punya pilihan selain mengamputasi tangannya sendiri. Dia menggunakan pisau kecil yang sudah tumpul untuk memotong tangannya yang harus membutuhkan keberanian yang tinggi dan menahan sakit yang tak terbendung yang dapat membuat dia pingsan, Aron kemudian mendaki tebing setinggi 65 kaki dan berjalan sejauh 8 mil sebelum akhirnya dia terselamatkan. Selama perjalanannya yang ada di benaknya hanyalah keluarga, kekasih, teman-teman, dan dua orang pendaki perempuan yang sempat bertemu sebelum akhirnya kecelakaan terjadi.

Over all, nonton film ini bikin merinding lo. Malahan mataku sempet berbinar. Film ini bener-bener memberikan gambaran bagaimana seorang Aron Ralston bertahan untuk memperjuangkan hidup. Selama 127 jam dia terjebak di ngarai tersebut dengan persediaan makanan dan minuman yang minim. Mencicipi hangatnya mentari yang hanya bisa dirasakan selama 15 menit tiap harinya. Membuat diri tetap hangat dimalam yang dingin dengan melilitkan tali disekujur kakinya.  Dalam keadaan yang tak pasti, hanya masa lalu yang membayangi pikirannya. Lalu dia dimakan oleh bunga tidurnya yang seolah-olah membawa dirinya selamat dari jebakan canyon ini seperti adanya hujan guntur dan sekelompok hewan liar yang dapat menyingkirkan batu tersebut walaupun hal itu sesungguhnya mustahil hhaha. Disana dia berusaha menghibur diri dengan melakukan hal konyol dengan kamera Canon-nya yang bikin aku ngakak hhaha terus ada adegan dimana dia lagi horny sampe-sampe mau masturbasi tapi alhamdulillah nggak jadi. Mungkin dia tahu akan menguras banyak tenaga hhaha Kita juga akan dibawa melihat panoroma alam menakjubkan yang nggak semua orang bisa jangkau (lihat panoromanya jadi ingat pelajarn Geologi Dasar tentang batuan hhehe). Film ini juga memberikan nilai moral dan nasihat yakni “Always let your family know where you are going, or at least you should make a call, text them when you arrived, just let them know that you are okay”.

Rasanya cukup segituh spoiler filmya karena kalau dibahas secara mendalam bisa nggak seru lagi ditonton. Ayo buruan hunting film 127 Hours sekarang, jam ini, menit ini, dan detik ini hhahaha Saya jamin kalian nggak bakal kecewa deh, percaya sama saya.

One thought on “127 Hours: Ketika Hidup atau Mati Menjadi Pilihan

  1. Danny Boyle memang rajanya pengadaptasi kisah nyata. Salut aQ dengan kejeliannya dalam memfilmkan sebuah kisah nyata. Memang sedikit kurang jelas tentang flashback-nya. Tapi mungkin memang disitu proporsional film ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s